Covid-19 di Pesantren (5): Berlaku Moderat di Masa Pandemi

Bertindak proposional atau moderat adalah kebutuhan ideal bersama dalam merespon apapun. Walau ada manusia yang merasa bahwa dirinya sudah berlaku moderat, tapi boleh jadi menurut orang lain, belum moderat.

Dalam merespon pandemi ini, boleh jadi, kaum muslimin terbagi menjadi tiga varian sikap, yakni ada yang mutasyaddid (berlaku ketat), ada yg mutasahil (berlaku cenderung menggampangkan), dan ada yang mutawassith (berlaku tengah-tengah; moderat).

Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wasallam pernah menyabdakan dalam hadits Shahih riwayat Imam al-Bukhari, ketika ada wabah menular agar lari seperti larinya binatang buas.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “لَا عَدوَى ولا طيرة ولا هامة ولا صفرَ، وفِرَّ مِن المجْذوم كما تفر مِن الأسد”

“Tidak ada penularan penyakit dengan sendirinya, tidak diperbolehkan meramalkan adanya hal-hal buruk, tidak boleh berprasangka buruk, dan tidak ada kesialan dalam bulan Shafar. Larilah kamu dari penderita kusta, sebagaimana kamu lari dari singa (yang buas).”

Larangan ini, bisa dimaknai sebagai upaya pencegahan (preventif), yang dalam konteks pandemi saat ini dilakukan dengan menjaga jarak; menjaga kebersihan; dan tak keluar rumah kecuali dalam keadaan yang menghajatkan.

Dalam hadits nomor 3911, riwayat Abu Dawud, pernyataan Rasulullah bahwa tak ada penyakit yang menular, ditimpali seorang penduduk desa, “Wahai Rasulullah, lalu bagaimana dengan onta yang semula sehat, kemudian berkumpul dengan onta yang kudisan kulitnya, sehingga onta tersebut menjadi kudisan pula? Rasulullah kemudian menjawab dengan sebuah pertanyaan, “Lalu siapa yang menularkan (kudis) pada onta pertama?”

Baca juga:  Virus Corona dan Sifat Baik Manusia

Demikianlah, penularan itu hanyalah sebuah sarana berjalannya takdir Allah. Walau demikian, manusia tetap diwajibkan berusaha untuk terhindar dari musibah dan wabah. Karena itulah, Rasulullah, sebagaimana didengar oleh Abi Hurairah, pernah bersabda:

لا يُرِدَنَّ مُمْرضٌ على مُصِحٍّ

“Janganlah onta yang sakit didatangkan pada onta yang sehat.” (HR. Abi Dawud, 3911).

Namun, dalam praktiknya, Rasulullah juga pernah dalam hadits riwayat At-Tirmidzi, dan Abi Dawud, bahwa beliau bahkan makan bersama dengan penderita kusta:

أَنَّ رَسُوْلَ الله صلى الله عليه وسلم أَخَذَ بِيَدِ مَجْذُوْمٍ فَوَضَعَهَا مَعَهُ فِيْ اْلقَصْعَةِ وقَالَ كُلْ ثِقَةً بِاللهِ وَتَوَكُّلًا عَلَيه

“Sesungguhnya Rasulullah memegang tangan seorang penderita kusta, kemudian memasukan tangannya bersama tangan beliau ke dalam piring. Kemudian beliau mengatakan: “Makanlah (dengan menyebut nama Allah), dengan percaya (berlindung) serta tawakal kepada-Nya.” (HR. Abi Dawud, 3925).

Mungkin sekilas terkesan kontradiktif ya? Iya. Namun, para ulama yang ahli, tentu melakukan sinergi pemaknaan.

Bahwa tak ada penyakit yang menular dengan sendirinya tanpa ada hubungan dengan kekuasaan Allah Ta’ala. Keyakinan bahwa penyakit itu menular dengan sendirinya adalah keyakinan masyarakat jahiliah. Maka, Rasulullah menggugurkan keyakinan itu dengan cara berkenan makan bersama penderita penyakit menular, untuk memberi penjelasan kepada mereka bahwa hanya Allah yang dapat menurunkan penyakit, dan menyembuhkannya.

Baca juga:  Benteng Batu Berdarah: Konflik Islam-Kristen dan Portugis di Ambon Abad 16

Nah, Rasulullah melarang kita mendekati orang yang berpenyakit menular adalah pelajaran bahwa kita harus melakukan ikhtiar, dan untuk memberi penjelasan bahwa menurut kebiasaan sebab akibat itu akan terjadi. Demikianlah larangan Rasulullah itu menunjukkan adanya sebab akibat.

Sehingga, perbuatan Rasulullah makan bersama dengan penderita kusta, menunjukkan bahwa sebab akibat itu tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi adalah karena kekuasaan Allah Ta’ala. Bahwa jika Allah mencabut daya penyakit itu, maka penyakit itu tak akan berpengaruh, dan jika Allah berkehendak membiarkannya, maka penyakit itu bisa memberi efek pengaruh.

Rasulullah ketika beliau tetap bersedia makan bersama penderita penyakit menular dan menyatakan berlindung dan bertawakal kepada Allah, membuktikan bahwa beliau mengajarkan kepada umat manusia, agar tetap melakukan ikhtiar dan selepasnya memasrahkan penuh kepada kehendak dan kuasa Allah Ta’ala. Dan sekaligus bermakna bahwa beliau mengajari kita, agar kepada sesama manusia, janganlah mengucilkan kepada sesama yang lain.

Upaya pencegahan dan kewaspadaan adalah perlu, tapi janganlah kemudian hal itu menyebabkan kita memandang dengan sebelah mata, mudah curiga tanpa data, dan janganlah kita menjauh jarak secara sosial, menjauhi atau mengunci pergaulan.

Oleh: Yusuf Suharto (Dosen Ma’had Aly Dan Pengurus IKAPPMAM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *